Dibanding bandingkan
Bacaan : Lukas 18: 9-14
Pada bacaan Lukas 18:9-14, diceritakan mengani perumpamaan seorang Farisi dan seorang pemungut cukai yang sedang berdoa di bait Allah. Doa bagi orang beriman merupakan nafas. Nafas bagi orang kebanyakan merupakan sumber kehidupan. Allah menciptakan manusia dan memberinya nafas kehidupan (Kejadian 2: 7). Sama halnya dengan seorang olahragawan, rata-rata olahragawan melakukan latihan untuk mengatur nafasnya. Seoarang olahragawan yang mampu mengatur nafasnya dengan baik maka dia akan mampu menjaga staminanya. Contohnya seorang pelari, jika dia mampu mengatur nafasnya dia akan mampu berlari puluhan bahkan ratusan kilometer. Lain halnya jika pelari tersebut tidak mampu mengatur nafasnya dia akan cepat lelah bahkan tidak mampu untuk sampai pada garis finish.
Begitu juga dengan doa orang beriman. Jika seseorang mampu mangelola doanya dengan baik dia alan dapat hidup dengan tenang. Lalu bagaimana kita dapat mengelola doa kita? Bacaan kita pada Lukas 18; 9-14 akan menjawab pertanyaan itu. Diceritakan seorang Farisi dan seorang pemungut cukai. Mereka sama-sama berdoa pada Allah. Namun ada perbedan dari isi doa yang mereka utarakan. Orang Farisi berdoa dengan meninggikan drinya dan membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih rendah darinya. Sedangkan pemungut cukai berdoa dengan kerendahan diri dan rasa berdosanya.
Kita akan belajar mengelola doa dari doa seorang Farisi. Ada 3 kesalahan dari doa orang Farisi tersebut:
1. Mengukur kebenaran secara subjektif (ayat 11-12)
Pada ayat 11-12 diceritakan bahwa orang Farisi merasa dirinya sudah benar dibandingkan dengan orang orang lain. Dan orang orang lain itu adalah perampok, pezinah, pencuri, bahkan pemungut cukai. Artinya orang Farisi tersebut membandingkan dirinya dengan orang orang yang lebih rendah dari dirinya. Dia dibutakan oleh derajadnya sebagai seorang yang dipandang dalam masyarakat. Dia tidak menyadari bahwa masih ada orang yang lebih baik dari padanya tanpa kedudukan dan materi. Ada ungkapan “diatas langit masih ada langit lagi”, itulah yang perlu kita sadari.
Contoh ada seorang anak menunjukkan nilai ulangannya kepada ibunya, lalu ibunya berkata mengapa nilai ulangan kamu hanya mendapat nilai 5. Jawab anaknya tidak apa bu, teman-teman yang lain banyak yang nilainya dibawah 5. Pasti hal-hal seperti ini sering kita lakukan walaupun dalam konteks yang berbeda. Hal seprrti inilah yang perlu kita hindari, walaupun kita mendapat nilai 5 kita lihat apakah ada yang mendapat nilai 7,8,9,atau 10. Sekali lagi kita diminta tidak takabur dengan apa yang kita capai, kita miliki. Ingatlah akan orang lain yang mungkin tidak seberuntung kita bahkan ada yang lebih baik dengan kita. Kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki, apa yang kita dapatkan.
2. Terjebak kesalehan pribadi (Yak 2 15-17)
Orang Farisi merasa dirinya benar dimata Allah. Dia meninggikan dirinya dihadapan Allah. Dengan mengatakan bahwa ia rajin berpusa dan tidak seperti orang-orang lain. Lain halnya dengan pemungur cukai, dia bahkan tidak berani menengadah ke langit, dia menundukkan kepalanya karena dirinya merasa berdosa. Dalam Yak 2 :14-17, dijelaskan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Orang Farisi mempunyai iman kepada Allah buktinya dia berdoa dalam bait Allah. Tetapi perbuatannya, sikapnya tidak mencerminkan sebagai seseorang yang mempunyai iman. Dalam wahyu di katakana janganlah imanmu seperti suamsuam kuku.
3. Meninggikan diri dihadapan Tuhan (ayat 12)
Ayat 12 orang Farisi berdoa dengan membandingkan dirinya dan orang lain, pemungt cukai, perampok, dan sebagainya. merasa dirinya mulia tidak sama dengan orang lain. Tapi pemunguut cukai berdoa dengan kerandahan hati. Pada ayat yang 14 barang siapa meninggikan diri maka akan direndahkan dan barang siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan. Sikap egois yang ditunjukkan orang Farisi membuat dirinya lupa pada orang lain. Di merasa dirinya lebih segala-galanya dari orang lain. Ada beberapa tips berdoa yang baik: yaitu doakan dahulu orang lain baru kita berdoa untuk diri kita.