Minggu, 15 Mei 2011

Dibanding-Bandingkan


Dibanding bandingkan

Bacaan : Lukas 18: 9-14
Pada bacaan Lukas 18:9-14, diceritakan mengani perumpamaan seorang Farisi dan seorang pemungut cukai yang sedang berdoa di bait Allah. Doa bagi orang beriman merupakan nafas. Nafas bagi orang kebanyakan merupakan sumber kehidupan. Allah menciptakan manusia dan memberinya nafas kehidupan (Kejadian 2: 7). Sama halnya dengan seorang olahragawan, rata-rata olahragawan melakukan latihan untuk mengatur nafasnya. Seoarang olahragawan yang mampu mengatur nafasnya dengan baik maka dia akan mampu menjaga staminanya. Contohnya seorang pelari, jika dia mampu mengatur nafasnya dia akan mampu berlari puluhan bahkan ratusan kilometer. Lain halnya jika pelari tersebut tidak mampu mengatur nafasnya dia akan cepat lelah bahkan tidak mampu untuk sampai pada garis finish.
Begitu juga dengan doa orang beriman. Jika seseorang mampu mangelola doanya dengan baik dia alan dapat hidup dengan tenang. Lalu bagaimana kita dapat mengelola doa kita? Bacaan kita pada Lukas 18; 9-14 akan menjawab pertanyaan itu. Diceritakan seorang Farisi dan seorang pemungut cukai. Mereka sama-sama berdoa pada Allah. Namun ada perbedan dari isi doa yang mereka utarakan. Orang Farisi berdoa dengan meninggikan drinya dan membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih rendah darinya. Sedangkan pemungut cukai berdoa dengan kerendahan diri dan rasa berdosanya.
Kita akan belajar mengelola doa dari doa seorang Farisi. Ada 3 kesalahan dari doa orang Farisi tersebut:
1. Mengukur kebenaran secara subjektif (ayat 11-12)
Pada ayat 11-12 diceritakan bahwa orang Farisi merasa dirinya sudah benar dibandingkan dengan orang orang lain. Dan orang orang lain itu adalah perampok, pezinah, pencuri, bahkan pemungut cukai. Artinya orang Farisi tersebut membandingkan dirinya dengan orang orang yang lebih rendah dari dirinya. Dia dibutakan oleh derajadnya sebagai seorang yang dipandang dalam masyarakat. Dia tidak menyadari bahwa masih ada orang yang lebih baik dari padanya tanpa kedudukan dan materi. Ada ungkapan “diatas langit masih ada langit lagi”, itulah yang perlu kita sadari.
Contoh ada seorang anak menunjukkan nilai ulangannya kepada ibunya, lalu ibunya berkata mengapa nilai ulangan kamu hanya mendapat nilai 5. Jawab anaknya tidak apa bu, teman-teman yang lain banyak yang nilainya dibawah 5. Pasti hal-hal seperti ini sering kita lakukan walaupun dalam konteks yang berbeda. Hal seprrti inilah yang perlu kita hindari, walaupun kita mendapat nilai 5 kita lihat apakah ada yang mendapat nilai 7,8,9,atau 10. Sekali lagi kita diminta tidak takabur dengan apa yang kita capai, kita miliki. Ingatlah akan orang lain yang mungkin tidak seberuntung kita bahkan ada yang lebih baik dengan kita. Kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki, apa yang kita dapatkan.
2. Terjebak kesalehan pribadi (Yak 2 15-17)
Orang Farisi merasa dirinya benar dimata Allah. Dia meninggikan dirinya dihadapan Allah. Dengan mengatakan bahwa ia rajin berpusa dan tidak seperti orang-orang lain. Lain halnya dengan pemungur cukai, dia bahkan tidak berani menengadah ke langit, dia menundukkan kepalanya karena dirinya merasa berdosa. Dalam Yak 2 :14-17, dijelaskan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Orang Farisi mempunyai iman kepada Allah buktinya dia berdoa dalam bait Allah. Tetapi perbuatannya, sikapnya tidak mencerminkan sebagai seseorang yang mempunyai iman. Dalam wahyu di katakana janganlah imanmu seperti suamsuam kuku.
3. Meninggikan diri dihadapan Tuhan (ayat 12)
Ayat 12 orang Farisi berdoa dengan membandingkan dirinya dan orang lain, pemungt cukai, perampok, dan sebagainya. merasa dirinya mulia tidak sama dengan orang lain. Tapi pemunguut cukai berdoa dengan kerandahan hati. Pada ayat yang 14 barang siapa meninggikan diri maka akan direndahkan dan barang siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan. Sikap egois yang ditunjukkan orang Farisi membuat dirinya lupa pada orang lain. Di merasa dirinya lebih segala-galanya dari orang lain. Ada beberapa tips berdoa yang baik: yaitu doakan dahulu orang lain baru kita berdoa untuk diri kita.

Selasa, 10 Mei 2011

Garam Dan Terang Dunia

Garam dan Terang Dunia
Bacaan : Matius 5: 13-16

Renungan atau khotbah mengenai garam dan terang dunia sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi kita selaku umat percaya. Dari mulai sejak kita kecil saat sekolah minggu hingga kini. “ Jadilah garam dan terang dunia!!”, itulah pesan yang sering kita terima. Lalu garam dan terang yang bagaimana yang harus ada pada diri kita?
Untuk menjawabnya kita perlu mengetahui fungsinya masing-masing. Garam memiliki banyak fungsi, diantaranya adalah sebagai bumbu masakan, pengawet makanan, mengusir ular. Sebagai bumbu masakan garam memberikan rasa pada masakan. Ada pepatah mengatakan “bagai sayur tanpa garam” yang artinya hambar. Sama halnya dengan keberadaan orang Kristen di masyarakat, yang mempunyai tugas “menggarami” lingkungan dimana kita tinggal. Dimana kita tinggal disitu orang akan merasa damai, tentram, membngun suasana kekeluargaan. Keberadaan orang Kristen hendaknya menciptakan lingkungan dimana ada interaksi social yang baik. Handaknya kita mampu berbaur dengan masyarakat agar kita juga dihargai oleh mereka. Janganlah kita hanya berdiam diri dirumah tanpa ada sosialisasi dengan lingkungan tempat kita tinggal. Jika kita ingin diterima di masyarakat, kuncinya adalah kita juga harus menerima masyarakat sebagai bagian dari kita. Ingat bahwa kita dilahirkan sebagai makhluk social. Selain itu seperti halnya garam yang berfungsi sebagai pengawet makanan, keberadaan orang Kristen hendaknya mampu menghilangkan hal-hal yang buruk di masyarakat. Janganlah kita hanya tinggal diam ketika ada hal tidak baik dilingkungan kita.
Sedangkan terang berfungsi untuk mengusir kegelapan, serta melihat benda-benda yang kecil. Setiap kita pasti pernah mengalami kejadian lampu rumah mati, kemudian setelah kita menyalakan satu batang korek, apa yang terjadi? Nyala korek tersebut mampu menerangi seisi ruangan. Kegelapan yang menyelimuti ruangan besar, mampu diusir dengan setitik cahaya korek api. Cahaya korek mampu mengubah kegelapan menjadi terang. Hendaknya orang Kristen juga mampu mengubah keburukan menjadi sesuatu yang baik yang bemanfaat. Orang Kristen dituntut mampu memberikan pengaruh yang baik kepada lingkungan disekitar kita. Melalui apa? Melalui perbuatan tingkah laku kita sehari-hari yang mencerminkan orang Kristen. Janganlah kita menutup diri dari masyarakat , kita harus peduli dengan lingkungan. Seperti cahaya juga berfungsi untuk melihat benda-benda kecil. Selain kita  mampu melihat Allah, sebagai tujuan kita. Terlebih dahulu kita lihat diri kita apakah kita telah berubah dari cara hidup kita yang berdosa menjadi cara hidup kepada Allah. Setelah itu barulah kita melihat sesama kita untuk diubahkan menjadi pola hidup yang lebih baik.
Ada persamaan antara garam dan terang yang pertama ada kekuatan. Keduanya memiliki kekuatan untuk mengasinkan dan mengusir kegelapan. Ada pengorbanan, garam akan hilang/larut ketika melakukan fungsinya memberikan rasa atau mengawetkan makanan. Sedangkan suatu lilin atau korek akan terbakar untuk menghasilkan cahaya yang dapat menerangi dalam kegelapan.
Selain persamaan ada perbedaan pada keduanya, yaitu: fungsi garam yang tidak kelihatan tetapi dapat dirasakan keberadaannya. Dan fungsi cahaya yang dapat dilihat keberadaannya. Cahaya yang menggambarkan cara hidup kita, perbuatan kita dapat dilihat oleh masyarakat. Sekarang apakah cahaya tersebut mampu berfungsi sebagaimana mestinya atau justru membakar dan menghanguskan apa yang ada di sekitarnya. Kita dilahirkan dengan potensi yang diberikan Allah, kembangkan potensi itu untuk menjadi berkat bagi orang banyak.
Kamu adalah garam dunia dan kamu adalah terang dunia
Jika kita terus bertanya dan memperbaiki diri untuk dapat memfingsikan diri kita dan gereja kita sebagai garam dan terang yang lebih baik, niscaya kita akan terus bertumbuh di dalam kristus untuk mewartakan dan mewujudkan damai sejahtera bagi masyarakat.

Hello World !!!!

Hello World,

I Have join!